MAKALAH
PROFESI PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PERAN GURU SEBAGAI INSPIRATOR DALAM MEMBERIKAN
INSPIRASI
Diajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah profesi pendidikan dan tenaga kependidikan

KELOMPOK 8:
Damasistio Pramono (2227111974)
Kelas: G
/ VI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG
TIRTAYASA
2013
KATA
PENGANTAR
Bissmillahirahmanirrahim
Puji
syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini sesuai waktu yang telah
ditentukan.
Karya
tulis ini kami buat berdasarkan literatur mengenai Peran Guru Sebagai Inspirator Dalam Memberikan
Inspirasi sebagai judul dari penulisan laporan
ini. Adapun maksud dan tujuan kami dalam pembuatan laporan ini adalah untuk
memenuhi tugas Profesi pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Kami sangat menyadari
bahwa dalam penyusunan Laporan ini masih banyak kekurangan baik dalam
penyusunan maupun kelengkapan materi. Hal ini di karenakan keterbatasan materi
yang kami miliki, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran guna
memperbaiki Laporan kami, dan semoga
laporan ini memberi manfaat bagi pembaca pada umumnya. Amin.
Serang, April
2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………... 2
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………………….. 3
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………………............. 4
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………….......... 4
1.3 Tujuan Masalah……………………………………………………….......... 4
BAB II : ISI DAN PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
1. Guru ..................................................................................................... 5
2. Peran Guru Secara Pribadi .................................................................... 5
3.
Peran
Guru dalam Upaya Peningkatan Kualitas Belajar Siswa……... 6
4. Guru Profesional .................................................................................. 10
2.2 Makna
Guru Inspiratif .................................................................................. 11
2.3 Peran Guru Sebagai Inspirator..................................................................... 13
BAB III :PENUTUP
3.1Kesimpulan…………………………………………………………………… 19
3.2 Saran…………………………………………………………………………. 20
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………... 21
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
dunia pendidikan peran guru sangatlah penting dimana Guru sebagaimana kita ketahui,
banyak yang menafsirkan sebagai seorang yang serba bisa dihadapan peserta
didiknya, sehingga akan merasa malu atau gengsi jika seorang guru kalah ilmu
dihadapan siswanya.
Sebenarnya guru bukan hanya menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti, dan yang paling utama yaitu pemberi inspirasi bagi siswanya. Dengan demikian guru yang mengambil peran sebagai inspirator, secara langsung dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, luwes dalam berkomunikasi, rendah hati, selalu ingin belajar dan bekerja keras, fleksibilitas dalam bergaul, berani bersikap, memiliki prinsip dalam kebenaran, dan paling utama tidak merasa bosan menjadi seorang pendidik.
Sebenarnya guru bukan hanya menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti, dan yang paling utama yaitu pemberi inspirasi bagi siswanya. Dengan demikian guru yang mengambil peran sebagai inspirator, secara langsung dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, luwes dalam berkomunikasi, rendah hati, selalu ingin belajar dan bekerja keras, fleksibilitas dalam bergaul, berani bersikap, memiliki prinsip dalam kebenaran, dan paling utama tidak merasa bosan menjadi seorang pendidik.
Di
dunia pendidikan guru merupakan panutan bagi para siswa-siswanya untuk menjadi pribadi yang baik, maka dari itu kita sebagai calon
pendidik (guru) harus mengetahui cara-cara ataupun nilai-nilai agar kita
terlatih untuk menjadi seorang inspirator untuk siswa-siswi kita dikemudian
hari pada saat menjadi seorang pendidik.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Pengertian guru?
2.
Pengertian
guru profesional?
3.
Pengertian
peran guru sebagai inspirator ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Memahami pengertian guru,peran.
2.
Memahami guru profesional.
3.
Memahami
peran guru sebagai inspirator.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
1.Guru
GURU adalah
front terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Operasional pendidikan pada
tingkatan mikro atau lapis dasar (gras root) adalah ditingkat institusional
atau satuan pendidikan dan instruksional. Namun ada kecenderungan guru
tersisihkan dari peranannya sebagai pihak yang terdepan, termasuk kaitannya dengan
EBTA, EBTANAS, UAN, UNAS, UAS-BN atau apapun namanya.Padahal pada tingkat ini
pendidikan berlangsung di front yang paling depan dimana terjadi interaksi
langsung antara pendidik dan peserta didik dalam interasi pendidikan, serta
berada pada posisi yang paling dekat dengan orang tua atau wali murid dan
masyarakat.
Dalam posisi
ini orang tua dan masyarakat dapat mengamati dari dekat bagaimana
berlangsungnya pendidikan untuk anak-anak mereka. Guru sebagai pihak yang
berada ditingkat instruksional berhadapan langsung dengan peserta didik dalam
proses instruksional harus memperoleh otonomi pedagogis dan profesional untuk
melaksanakan tugas-tugas sebagai pendidik. Guru sebagai perancang pengajaran,
manager pengajaran, pengarah pembelajaran, pembimbing peserta didik dan penilai
hasil belajar, maka merekalah yng sesungguhnya mempunyai otonomi dalam
memberikan informasi hasil belajar, tapi kenyataan hingga saat ini guru lebih
banya diperlakukan sebagai komponen obyek dan bukan sebagai subyek insan
pendidikan. Sudah seharusnya guru memperoleh preoritas sentral dalam
pemberdayaan otonomi pedagogisnya dalam mewujudkan kinerja pendidikan.
Mengingat besarnya peran guru pada tingkat institusional dan instruksional,
maka guru harus dijadikan sumber informasi proses dan hasil pendidikan dari
anak didik yang menjadi tanggung jawabnya. Guru harus diberdayakan dalam
keikutsertaannya dalam evaluasi dan proses pembelajaran.
2.Peran Guru Secara Pribadi
Dilihat dari dirinya sendiri, seorang guru
harus berperan sebagai berikut :
• Petugas social, yaitu seorang yang harus
membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru
senantiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi
didalamnya.
• Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa terus
menerus menuntut ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara setiap saat guru
senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
• Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan setelah keluarga, sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga, guru berperan sebagai orang tua bagi siswanya.
• Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan setelah keluarga, sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga, guru berperan sebagai orang tua bagi siswanya.
• Pencari teladan, yaitu yang senantiasa
mencarikan teladan yang baik untuk siswa. Guru menjadi ukuran bagi norma-norma
tingkah laku
• Pemberi keamanan, yaitu yang senantiasa
mencarikan rasa aman bagi siswa. Guru menjadi tempat berlindung bagi siswa
untuk memperoleh rasa aman dan puas di dalamnya.
3.
Peran Guru dalam Upaya Peningkatan Kualitas Belajar Siswa
Salah satu tugas utama guru adalah
pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas, pembelajaran dapat diartikan sebagai
kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran
sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi
guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat
pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan
menemukan sendiri pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang mereka butuhkan.
Proses pembelajaran yang selama ini dilakukan khususnya pada sekolah yang berada di pedesaan atau daerah yang belum tersentuh teknologi pada dasarnya hanya menekankan pada target pencapaian kurikulum dari pada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu. Kondisi seperti ini tidak akan mampu menmbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan.Dengan diterapkannya Kurikulum 2006 (KTSP), guru tidak lagi hanya sebagai penceramah yang selalu mendokrtrinasi berbagai macam teori kepada siswa. Siswa tidak lagi diperlakukan sebagai objek namun secara utuh mereka merupakan subjek yang siap untuk menyerap berbagai pengalaman melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Guru dan siswa harus menciptakan kelas sebagai suatu keluarga kecil yang mampu memberikan gambaran tentang proses interaksi di dalamnya, dimana siswa lebih berpartisipasi aktif sehingga kegiatan siswa dalam belajar jauh lebih dominan dari pada kegiatan guru dalam mengajar.Penjelasan pasal 4 UU. No. 14 Tahun 2005 menjelaskan bahwa guru merupakan agen pembelajaran, yaitu guru berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Penjelasan pasal tersebut memberikan suatu pemahaman kepada kita bahwa, terdapat empat peran penting yang harus dilakukan guru dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas belajar siswa, yaitu :
Proses pembelajaran yang selama ini dilakukan khususnya pada sekolah yang berada di pedesaan atau daerah yang belum tersentuh teknologi pada dasarnya hanya menekankan pada target pencapaian kurikulum dari pada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu. Kondisi seperti ini tidak akan mampu menmbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan.Dengan diterapkannya Kurikulum 2006 (KTSP), guru tidak lagi hanya sebagai penceramah yang selalu mendokrtrinasi berbagai macam teori kepada siswa. Siswa tidak lagi diperlakukan sebagai objek namun secara utuh mereka merupakan subjek yang siap untuk menyerap berbagai pengalaman melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Guru dan siswa harus menciptakan kelas sebagai suatu keluarga kecil yang mampu memberikan gambaran tentang proses interaksi di dalamnya, dimana siswa lebih berpartisipasi aktif sehingga kegiatan siswa dalam belajar jauh lebih dominan dari pada kegiatan guru dalam mengajar.Penjelasan pasal 4 UU. No. 14 Tahun 2005 menjelaskan bahwa guru merupakan agen pembelajaran, yaitu guru berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Penjelasan pasal tersebut memberikan suatu pemahaman kepada kita bahwa, terdapat empat peran penting yang harus dilakukan guru dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas belajar siswa, yaitu :
- Guru Sebagai Fasilitator
Jika prestasi belajar adalah hasil, maka belajar merupakan prosesnya. Dalam proses itu, siswa akan menemui berbagai rintangan. Di sinilah arti penting fasilitator. Fasilitator adalah orang yang menyediakan fasilitas. Fasilitator dalam konsep belajar mandiri, guru dan sekolah tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan, tetapi lebih bersifat sebagai pendukung kebutuhan siswa (1997:275).
Wina Senjaya, mengatakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Sebagai gambaran dalam ilmu sosial guru dapat memberikan tugas siswa dengan menganalisa fenomena kehidupan sosial yang terjadi pada lingkungannya maupun lingkungan bernegara melalui majalah, koran, televise, internet, dan fenomena kehidupan sosial sehari-hari sehingga siswa akan lebih banyak meluangkan waktunya untuk belajar dengan pengalaman hidup yang ia geluti
Jika prestasi belajar adalah hasil, maka belajar merupakan prosesnya. Dalam proses itu, siswa akan menemui berbagai rintangan. Di sinilah arti penting fasilitator. Fasilitator adalah orang yang menyediakan fasilitas. Fasilitator dalam konsep belajar mandiri, guru dan sekolah tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan, tetapi lebih bersifat sebagai pendukung kebutuhan siswa (1997:275).
Wina Senjaya, mengatakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Sebagai gambaran dalam ilmu sosial guru dapat memberikan tugas siswa dengan menganalisa fenomena kehidupan sosial yang terjadi pada lingkungannya maupun lingkungan bernegara melalui majalah, koran, televise, internet, dan fenomena kehidupan sosial sehari-hari sehingga siswa akan lebih banyak meluangkan waktunya untuk belajar dengan pengalaman hidup yang ia geluti
Prof. Dr. Made Pidarta (1997:271)
menjelaskan bahwa perilaku-perilaku yang perlu diperhatikan para pendidik
sebagai fasilitator adalah sebagai berikut: (1) Pendidik bertindak sebagai
mitra; (2) Melaksanakan disiplin yang permisif, ialah memberi kebebasan
bertindak asal semua peserta didik aktif belajar; (3) Memberi kebebasan kepada
semua peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi mereka masing-masing; (4)
Mengembangkan cita-cita riil para peserta didik atas dasar pemahaman mereka
tentang diri sendiri; (5) Melayani pengembangan bakat setiap peserta didik; (6)
Melakukan dialog atau bertukar pikiran secara kritis dengan peserta didik; (7)
Memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk berkreasi; (8) Mempergunakan
metode penemuan; (10) Mempergunakan metode pembuktian.
- Guru Sebagai Motivator atau Pemacu
MC. Donald dalam Nashar menjelaskan, bahwa “motivasi adalah suatu perbuatan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.” Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai seluruh daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan, memberikan, dan menjamin kelangsungan arah kegiatan belajar. Siswa yang tidak mempunyai motivasi tidak mungkin akan melakukan aktifitas belajar.
Motivasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu : (1) motivasi intrinsik, adalah sebuah motivasi yang lahir dari diri pribadi seseorang, (2) motivasi ekstrinsik, adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang. Sebagai motivator guru harus dapat membangkitkan motivasi siswa khususnya siswa yang belum memiliki motivasi diri sehingga secara perlahan akan lahir suatu kesadaran dalam dirinya untuk mengantarkannya kepada pintu kesuksesan.
Banyak hal yang dapat dilakukan guru agar siswa selalu termotivasi untuk belajar, antara lain :
1) Menciptakan suasana kelas yang kondusif, situasi belajar yang menyenangkan, dan tidak mudah untuk memarahi siswa.
2) Bersikap simpati kepada siswa sehingga siswa akan merasa bahwa guru adalah pelindung sekaligus orang tua selama berada di sekolah.
3) Menciptakan persaingan yang sehat, memberikan pujian dan sanksi edukatif kepada siswa.
4) Menjadikan lingkungan dan alam sebagai media belajar dengan menunjukkan contoh-contoh konkrit yang berada pada lingkungan hidupnya.
5) Menjanjikan hadiah bagi siswa berprestasi.
MC. Donald dalam Nashar menjelaskan, bahwa “motivasi adalah suatu perbuatan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.” Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai seluruh daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan, memberikan, dan menjamin kelangsungan arah kegiatan belajar. Siswa yang tidak mempunyai motivasi tidak mungkin akan melakukan aktifitas belajar.
Motivasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu : (1) motivasi intrinsik, adalah sebuah motivasi yang lahir dari diri pribadi seseorang, (2) motivasi ekstrinsik, adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang. Sebagai motivator guru harus dapat membangkitkan motivasi siswa khususnya siswa yang belum memiliki motivasi diri sehingga secara perlahan akan lahir suatu kesadaran dalam dirinya untuk mengantarkannya kepada pintu kesuksesan.
Banyak hal yang dapat dilakukan guru agar siswa selalu termotivasi untuk belajar, antara lain :
1) Menciptakan suasana kelas yang kondusif, situasi belajar yang menyenangkan, dan tidak mudah untuk memarahi siswa.
2) Bersikap simpati kepada siswa sehingga siswa akan merasa bahwa guru adalah pelindung sekaligus orang tua selama berada di sekolah.
3) Menciptakan persaingan yang sehat, memberikan pujian dan sanksi edukatif kepada siswa.
4) Menjadikan lingkungan dan alam sebagai media belajar dengan menunjukkan contoh-contoh konkrit yang berada pada lingkungan hidupnya.
5) Menjanjikan hadiah bagi siswa berprestasi.
Motivasi pun dapat dilakukan guru
melalui kerjasama atau koordinasi dengan orang tua. Finn dalam Departemen Agama
mengidentifikasi tiga bentuk peran orang tua di rumah yang berhubungan erat
dengan peningkatan prestasi anak di sekolah, yaitu : (1) secara efektif
mengatur dan memonitor waktu anak; (2) membimbing mereka dalam menyelesaikan
pekerjaan rumah; dan (3) mendiskusikan masalah-masalah sekolah dengan anak.
- Guru Sebagai Perekayasa
Pembelajaran
Guru profesional harus memiliki daya
kreatifitas yang tinggi dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan
menyenangkan. Kondisi pembeajaran yang tidak kondusif dan menegangkan akan
melahirkan suatu tekanan psikis dalam diri siswa, yang berdampak pada
hilangnyaKonsentrasibelajarsiswa.
Suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan tersebut dapat diciptakan guru dengan kreatifitasnya dalam merekayasa materi pembelajaran ke dalam berbagai bentuk media, seperti media audio, media audio-visual, media cetak, media objek fisik, komputer, dan internet. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
Seiring dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK (komputer/internet) merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam upaya peningkatan kualitas belajar siswa dengan tentunya untuk mencerdaskan siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai.
Suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan tersebut dapat diciptakan guru dengan kreatifitasnya dalam merekayasa materi pembelajaran ke dalam berbagai bentuk media, seperti media audio, media audio-visual, media cetak, media objek fisik, komputer, dan internet. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
Seiring dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK (komputer/internet) merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam upaya peningkatan kualitas belajar siswa dengan tentunya untuk mencerdaskan siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai.
- Guru Sebagai Inspirator
Sebagai inspirator guru harus dapat
memberikan inspirasi atau petunjuk yang baik bagi kemajuan siswa. Guru harus
memberikan petunjuk kepada siswa bagaimana cara belajar yang baik, media apa
yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga hal tersebut akan
melahirkan sebuah inspirasi dan dalam diri siswa tersebut untuk terus belajar
guna meraih prestasi. Maka dari itu kita sebagai calon pendidik harus
berkepribadian baik, religious, bermoral dan bermartabat agar peserta didik
dapat menginspirasi kita sebagai pendidiknya.
Namun
dalam dunia pendidikan peran guru sangatlah penting selain nilai – nilai diatas
guru pun harus mempunyai menjadi guru kreatif, menjadi seorang guru yang kreatif saat ini tampaknya sudah
menjadi suatu keharusan. Sebab, guru yang kreatif akan mampu menciptakan proses
pembelajaran yang memudahkan peserta didik menerima materi yang disampaikan
dengan proses yang menyenangkan. Selain itu, kreatifitas adalah salah satu
modal untuk menjadi guru profesional
Salah satu ciri guru kreatif adalah selalu
terbuka dengan gagasan atau kemungkinan baru. Dia aktif mencari dan
mengembangkan gagasan atau cara yang berbeda untuk peningkatan kualitas
pembelajaran siswa.(2)Kembangkan pertanyaan. Guru kreatif akan selalu bertanya
dan mencari terus menerus tentang yang dia lihat dan lakukan dalam
pembelajaran. Dengan demikian, dia akan terus berkembang dan tidak menganggap
segala sesuatu sudah semestinya dilakukan melainkan akan menghasilkan cara yang
lebih baik untuk peningkatan kualitas belajar siswa. (3) Kembangkan gagasan
sebanyak-banyaknya. Guru kreatif akan selalu mencari banyak solusi dan alternatif.
Dia akan mengembangkan kreativitas dan imajinasi yang dia punya untuk
meningkatnya kualitas pembelajaran. (4) Ciptakan model pembelajaran yang
menarik dan menyenangkan. Seorang guru yang kreatif akan selalu berpatokan pada
‘Learning is fun’. Dia akan selalu menciptakan model dan metode pembelajaran
yang menyenangkan sehingga anak didiknya merasa tertarik tentang apa yang dia
sampaikan dan tidak merasa jenuh dalam kegiatan belajar
3.Guru
Profesional
Guru sebagaimana kita ketahui,
banyak yang menafsirkan sebagai seorang yang serba bisa dihadapan peserta
didiknya, sehingga akan merasa malu atau gengsi jika seorang guru kalah ilmu
dihadapan siswanya.Sebenarnya guru sebagaimana dilukiskan Earl V Pullias dan
james young bukan hanya menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi
juga berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator,
peneliti, atau paling tidak sebagai pemberi inspirasi bagi siswanya.Dengan
demikian , guru yang mengambil peran sebagai inspirator, secara langsung dituntut
untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, luwes dalam berkomunikasi,
rendah hati, selalu ingin belajar dan bekerja keras, fleksibilitas dalam
bergaul, berani bersikap, memiliki prinsip dalam kebenaran, dan yang paling
utama tidak merasa bosan menjadi seorang pendidik.Coba bayangkan, seandainnya
guru memperlihatkan kebosanannya sebagai seorang pendidik di hadapan siswa
siswanya, maka apa yang terjadi? Siswa akan kehilangan semangat untuk belajar
dari gurunya.Professi
:hosnan.m 1989 adalah keahlian yang dimilki seseorang yang
berkaitan dgn pekerjaanya.Profesional : pengakuan pada diri seseorang yg
menyandang suatu profesi dlm mlksnk unjuk kerjanya .Pendidik:
guru profesional : yang memiliki tugas
: utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah tenaga kependidikan
: petugas yang melayanai dan membina
pendidikan sesuai dgn jenjang dan jenis pendidikan mis;kasek,pengawas.pustakawan,laboran dsb, Guru profesional harus memiliki daya
kreatifitas yang tinggi dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan
menyenangkan. Kondisi pembeajaran yang tidak kondusif dan menegangkan akan
melahirkan suatu tekanan psikis dalam diri siswa, yang berdampak pada hilangnya
konsentrasi belajar siswa.Suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan
tersebut dapat diciptakan guru dengan kreatifitasnya dalam merekayasa materi
pembelajaran ke dalam berbagai bentuk media, seperti media audio, media
audio-visual, media cetak, media objek fisik, komputer, dan internet.
Penggunaan media dalam pembelajaran dapat memperlancar interaksi antara guru
dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.Seiring
dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK
(komputer/internet) merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam
upaya peningkatan kualitas belajar siswa.Mengutip pendapat Kemp dan Dayton, La
Ode Safihu mengatakan, bahwa manfaat pembelajaran dengan menggunakan media
antara lain : (1) mampu memberikan kesan yang mendalam dan tahan lama pada diri
siswa, (2) membuat pelajaran yang abstrak menjadi konkrit, dan (3) Meningkatkan
kualitas hasil belajar.Ibrahim (1982:12) mengemukakan, bahwa fungsi atau
peranan media dalam proses belajar mengajar antara lain : (1) dapat menghindari
terjadinya verbalisme, (2) membangkitkan minat atau motivasi, (3) menarik
perhatian, (4) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran, (5) mengaktifkan
siswa dalam belajar, dan (6) Mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar.

2.2 Makna
Guru Inspiratif
Selama
ini ada banyak memang guru yang sudah mampu menjadi inspirator bagi
murid-muridnya. Namun peran tersebut masih dianggap bukan hal yang utama. Cukup
mendidik dan mengajar, memberi ilmu, guru merasa sudah memenuhi sebagian besar
tugasnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “inspirasi” adalah kata benda yang berarti “ilham”. Sedangkan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti yakni petunjuk Tuhan yang timbul di hati, berarti pula pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati atau bisikan hati dan bermakna pula sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb).
Dalam hal ini berarti seorang guru harus mampu membangkitkan pikiran atau angan-angan muridnya untuk melakukan sesuatu atau menjadi sesuatu yang positif (cita-cita atau keinginan). Guru juga harus bisa menggerakan hati anak didiknya untuk menciptakan sesuatu, membuat sesuatu, berusaha, berjuang dan mengikuti sesuatu yang diyakininya benar dan baik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “inspirasi” adalah kata benda yang berarti “ilham”. Sedangkan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti yakni petunjuk Tuhan yang timbul di hati, berarti pula pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati atau bisikan hati dan bermakna pula sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb).
Dalam hal ini berarti seorang guru harus mampu membangkitkan pikiran atau angan-angan muridnya untuk melakukan sesuatu atau menjadi sesuatu yang positif (cita-cita atau keinginan). Guru juga harus bisa menggerakan hati anak didiknya untuk menciptakan sesuatu, membuat sesuatu, berusaha, berjuang dan mengikuti sesuatu yang diyakininya benar dan baik.
Ngainun
Naim, dalam bukunya “Menjadi Guru Inspiratif “ menjelaskan bahwa guru adalah
orang yang mengantarkan seseorang untuk mencapai kemulian. Guru begitu memiliki
peranan penting dalam proses belajar siswa. Guru juga harus bisa memberikan
pencerahan bagi siswanya dan mampu melahirkan siswa yang tangguh, siap
menghadapi aneka tantangan sekaligus memberi
perubahan yang hebat bagi kehidupannya “Pencerahan itu
pasti lahir dari guru yang inspiratif. Guru inspiratif adalah guru yang
memiliki orientasi jauh lebih luas. Guru inspiratif memilih melakukan tindakan
yang sangat strategis, yaitu bagaimana ia mampu memberikan perspektif yang
mencerahkan. Guru inspiratif menawarkan perspektif yang memberdayakan, menghasilkan
energi yang kreatif, “ ujar Ngainun.
Lanjut
Ngainun, guru inspiratif tidak hanya melahirkan daya tarik dan spirit
perubahan terhadap diri siswanya dari aspek diri pribadinya semata, tetapi ia
juga harus mampu mendesain iklim dan suasana yang juga inspiratif.
Penciptaan
pola yang inspiratif akan semakin memperkukuh karakter dan sifat inspiratif
yang ada pada diri guru. Perpaduan keduanya yaitu karakter diri guru dan
suasana pembelajaran akan menjadikan dimensi inspiratif, semakin menemukan
momentum untuk mengkristalkan dan membangun energi perubahan positif dalam diri
setiap siswa.
Tambah Ngainun, dalam usaha untuk menciptakan iklim pembelajaran yang inspiratif, aspek paling utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk tenang dan menyukai terhadap pelajaran.
“Penciptaan suasana pembelajaran yang inspiratif sangat penting artinya untuk semakin mengukuhkan dan mendukung kekuatan inspiratif yang bersumber dari diri pribadi guru. Dua aspek ini: pribadi guru dan suasana pembelajaran, pada gilirannya akan mampu mengakumulasikan potensi dalam diri para siswanya untuk semakin meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. “ jelasnya.
Tambah Ngainun, dalam usaha untuk menciptakan iklim pembelajaran yang inspiratif, aspek paling utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk tenang dan menyukai terhadap pelajaran.
“Penciptaan suasana pembelajaran yang inspiratif sangat penting artinya untuk semakin mengukuhkan dan mendukung kekuatan inspiratif yang bersumber dari diri pribadi guru. Dua aspek ini: pribadi guru dan suasana pembelajaran, pada gilirannya akan mampu mengakumulasikan potensi dalam diri para siswanya untuk semakin meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. “ jelasnya.
Katanya,
modal inilah yang pada gilirannya dapat dilejitkan untuk melakukan perubahan
menujuh arah pencapaian cita-cita hidup, baik jangka pendek maupun jangka
panjang.
“Dalam jangka pendek, para siswa mampu menjadi siswa dengan prestasi belajar yang memuaskan. Sedangkan cita-cita jangka panjangnya adalah bagaimana menjadi pribadi yang sukses dalam makna yang luas; sukses hidup, keluarga, profesi, social, dan kemasyarakatan.” ucap Ngainun.
“Dalam jangka pendek, para siswa mampu menjadi siswa dengan prestasi belajar yang memuaskan. Sedangkan cita-cita jangka panjangnya adalah bagaimana menjadi pribadi yang sukses dalam makna yang luas; sukses hidup, keluarga, profesi, social, dan kemasyarakatan.” ucap Ngainun.
2.3 Peran Guru Sebagai
Inspirator
Guru
sebagai pemberi inspirasi belajar harus mampu memerankan diri dan memberikan
inspirasi sesuai dengan apa yang dipelajari. Membangkitkan ide, pemikiran,
gagasan, optimesme dan keharmonian dalam belajar dibutuhkan sarana dan
prasarana yang mendukung.
Rhenald Kasali pada harian Kompas terbitan tanggal 29 Agustus 2007 dengan judul “GURU KURIKULUM DAN GURU INSPIRATIF”. Kutipanya yaitu : “Ada dua jenis guru yang kita kenal yaitu guru kurikulum dan guru Inspiratif. Guru kurikulum sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransper semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking) dan jumlahnya sekitar 99%. Sedangkan guru inspiratif jumlanya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box) mengubahnya di dalam lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.”
Rhenald Kasali pada harian Kompas terbitan tanggal 29 Agustus 2007 dengan judul “GURU KURIKULUM DAN GURU INSPIRATIF”. Kutipanya yaitu : “Ada dua jenis guru yang kita kenal yaitu guru kurikulum dan guru Inspiratif. Guru kurikulum sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransper semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking) dan jumlahnya sekitar 99%. Sedangkan guru inspiratif jumlanya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box) mengubahnya di dalam lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.”
Melihat
kondisi pendidikan/system sekolah umumnya di Indonesia, guru-guru memang
terbelenggu oleh ketentuan administrative yang harus dipatuhi seperti target
pencapaian kurikulum, ketuntasan belajar, silabus, RPP dan sebagainya. Sesuai
dengan ketentuan yang ada bahwa wujud pelaksanaan pendidikan di sekolah
tertuang dalam bentuk kegiatan intra kurikuler dan ekstrakurikuler. Dalam
kegiatan intrakurikuler sangat jarang guru dalam interaksinya dengan
murid-muridnya mampu mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki mereka.
Padahal tujuan pendidikan yaitu pengembangan secara menyeluruh dari seluruh
potensi anak didik melalui kreatifitas dan berpikir kreatif. Hal ini
memperlihatkan bahwa pendidikan memiliki arti sebagai pengembangan potensi
manusia.
Selama
ini guru lebih menekankan pada pendekatan intelektual/intelgensia atau hanya
mengejar nilai. Sedangkan ketrampilan hidup dan bersosialisasi tidak diajarkan.
Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang didapat bukan kemampuan
diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat mendorong anak untuk mencontek atau
melakukan usaha-usaha yang tidak baik karena tuntutan angka sehingga
nilai-nilai pendidikan terabaikan.
Ada 3 (tiga) pendekatan yang bisa dilakukan
oleh guru dalam proses pembelajaran dikelas agar menjadi sumber inspirasi atau
pemberi inspirasi :
1.
Melalui Pendekatan Kecerdasan Emosional
Otak manusia terdiri ari dua lapisan yaitu
lapisan luar (neo cortrex) dan lapisan tengah (limbic system). Di wilayah
lapisan luar otal, manusia mampu berhitung, mengoperasikan computer,
mempelajari bahasa Inggris, dan perhitungan yang rumit lainnya. Melalui
penggunaan otak neo-cortex inilah lahir intelegence quotient/IQ atau kemampuan
intelektual (Ary Ginanjar A: Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power). Kecerdasa
ini berkaitan dengan kesadaran terhadap ruang, kesadaran pada sesuatu yang
tampak, dan penguasaan matematika. Sedangkan pada lapisan tengah otak (limbic
system) terletak pengendali emosi dan perasan manusia yang memungkinkan manusia
luwes dalam bergaul, penolong sesama, setia kawan dan bertanggung jawab.
Perilaku inilah yang disebut kecerdasan emosional/EQ (emotional quotient) yang
dapat dimaknai serangkaian kecakapan untuk melapangkan jalan di dunia yang
penuh liku-liku permasalahan social. Pada ranah inilah saya pikir, guru bisa
membangkitkan potensi anak didiknya untuk menempuh kesuksesan dengan
mengembangkan rasa simpati dan empati pada sesama, sifat kerja keras dan
bertanggung jawab. Menurut penelitian yang dilakukan oleh pakar psikolog yaitu
Steven J. Stein dan Howard E. Book, bahwa IQ hanya berperan dalam kehidupan
manusia dengan besaran maksimum 20%, bahkan hanya 6%. Jadi pendekatan emosional
yang dilakukan guru terhadap siswanya ketika interaksi di kelas, bisa mendorong
siswa untuk sukses dengan tidak hanya mengandalkan dari sisi IQ-nya saja.
Pendekatan emosional yang bisa dilakukan misalnya dengan selalu menebarkan
energi positif pada anak didik, toleransi terhadap ketidaksempurnaan, dan
mencintai sepenuh hati anak didik dengan perbedaan yang dimiliki mereka.
2.
Melalui Pendekatan Kecerdasan Spiritual
Pada
ranah ini, pendekatan yang harus dilakukan oleh guru adalah meningkatkan
potensi siswa dengan membangkitkan spiritual quotient dengan cara
menanamkan/mengajarkan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam agama. Pondasinya
sesuatu yang baik dan indah. Dalam pengertian umum bisa bermakna positif
termasuk kejujuran, kebajikan, keindahan dan keramahan. Dalam belajar atau
bekerja adalah bagaimana seseorang dapat belajar/bekerja dengan jujur dan
amanah dan mengerjakan sesuatunya secara benar-sesuai peraturan yang
ditetapkan. Guru bisa menanamkan kepada setiap anak didik/siswa bahwa setiap
yang dilakukan oleh kita manusia adalah bernilai ibadah dan sebagai manusia
harus bisa memberi manfaat bagi manusia yang lain.
3.
Melalui Pendekatan Kecerdasan Sosial
Menurut
Edward L. Thondrike kecerdasan social (socialintelligence) adalah kemampuan
untuk saling mengerti sesama manusia dan bijaksana dalam hubungan sesama
manusia. Dia menegaskan kecerdasan sosial berbeda dengan kemampuan akademik.
Saat ini banyak tudingan terhadap dunia pendidikan dimana produk pendidikan
kita adalah manusia-manusia yang biasa menyikut orang untuk mempertahankan
kepentingannya karena kurikulum ternyata mendorong orang semakin cerdas
sekaligus menyuburkan sikap-sikap individualistic alias mementingkan diri
sendiri. Gaya hidup ini menghapus bersih sikap kerja sama, tenggang rasa,
simpati, empati dan budi pekerti yang luhur. Bayangkan bila penguasa masa depan
adalah produk dari dunia pendidikan seperti ini. William Chang, seorang
pemerhati social menyebut fenomena ini menghasilkan manusia yang bereaksi
lamban. Kelambanan bereaksi ditafsirkan akibat rendahnya kecerdasan sosial.
Sisi inilah yang barangkali bisa digali dan dikembangkan oleh guru pada anak
didiknya. Harus disadari bahwa latar belakang sosial anak didik berbeda-beda
baik suku, bahasa, agama, bahkan tingkat ekonominya. Disisi lain manusia
sebagai makhluk social tidak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu penting
kiranya mengembangkan sikap kerja sama, tenggang rasa, simpati, empati dan budi
pekerti yang luhur pada setiap anak didik. Cara yang bisa dilakukan adalah
dengan mempraktekan 5 S (senyum, sapa, salam, sabar dan syukur). Pendekatan di
atas sebagai motivasi bagi kita untuk bisa berbuat lebih bayak dan lebih baik.
Untuk itulah pemerintah membuat standar kompetensi guru yang meliputi :
• Personal / keperibadian
Kemampuan kepribadian yang mantap,
stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia yang menjadi teladan bagi
peserta didik.
•
Pofesional
Kemampuan penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam yang memungkinkan guru dapat membimbing peserta didik
untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional
Pendidikan.
•
Pedagogik
Kemampuan mengelola peserta didik yang
meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
•
Sosial
Kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat
untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat
sekitar.
Jadi
Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan inspirasi atau petunjuk yang baik
bagi kemajuan siswa. Guru harus memberikan petunjuk kepada siswa bagaimana cara
belajar yang baik, media apa yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran,
sehingga hal tersebut akan melahirkan sebuah inspirasi dan dalam diri siswa
tersebut untuk terus belajar guna meraih prestasi.
Sebagai contoh guru telah menorehkan
tinta dalam sejarah Indonesia untuk mengubah kehidupannya dan menuntut keadilan, guru melakukan demo besar-besaran. Kegiatan
demo ini akan menginsfirasikan pada
siswa hal yang positif dan negetif. Inspirasi positif yang muncul dalam benak siswa seperti:
Inspirasi pertama adalah anak-anak mungkin akan
terinspirasi betapa hebatnya perjuangan guru mereka dalam memperjuangkan
nasibnya. Para murid ini akan terilhami bahwa tidak ada namanya jalan buntu
dalam memperjuangkan sesuatu. Selalu ada jalan menuju Roma.
Inspirasi kedua bisa datang dari tidak kompaknya
para guru di beberapa Kecamatan dalam menyikapi ajakan demo dari PGRI. Dari
sini sang murid bisa melihat bahwa berbeda pendapat adalah sah-sah saja selama
memiliki landasan pemikiran yang rasional. Lebih baik memilih bersikap berbeda
daripada menjadi bunglon yang hanya mau memetik keuntungan saja dari perjuangan
yang susah payah dilakukan rekan-rekannya yang lain.
Inspirasi ketiga, murid-murid mereka akan belajar
untuk tidak takut untuk menyuarakan pendapat. Sebelum demo dilakukan mungkin
para guru merasakan tekanan dari berbagai pihak untuk tidak melakukan hal-hal
yang bisa merugikan pihak lain. Meskipun tidak semua siswa mereka peka terhadap
persoalan yang tengah dihadapi guru mereka sebelumnya, bagi sebagian siswa
terutama yang sudah duduk di pendidikan menengah mungkin akan bisa lebih
merasakannya. Karenanya butuh energi yang cukup besar dari para guru ketika
memutuskan untuk menyuarakan pendapatnya.
Inspirasi Keempat, bisa juga muncul inspirasi bahwa
suatu hal yang diperjuangkan akan lebih mudah tercapai apabila dilakukan
bersama-sama. Bukankah para guru sering mengajarkan bahwa satu lidi tidak akan
mampu membersihkan kotoran daripada seratus lidi yang diikat menjadi satu? Demo
guru memberikan contoh konkret terhadap apa yang telah mereka ajarkan.
Inspirasi Kelima, anak-anak pun akan belajar untuk
berpikir kritis sebagaimana yang dicontohkan guru-guru mereka dalam demo itu.
Maka jangan kaget kalau suatu saat murid mereka bisa bersikap kritis kepada
mereka.
Sebagai pendidik, guru harus tetap waspada
terhadap prilaku ketika berdemo, karena kita tetap ditonton dan disaksikan anak didik . jika kita
berprilaku anarki dalam demo, maka
secara langsung guru telah memberikan inspirasi negetif terhadap siswa .
Seperti yang diberitakan bahwa
demonstrasi yang dilakukan para guru dilakukan pada jam proses belajar mengajar
seharusnya berlangsung. Karena itu dikhawatirkan anak-anak akan terinspirasi bahwa
ketika hak tidak terpenuhi maka boleh-boleh saja mengabaikan kewajiban,
walaupun apa yang dilakukan itu merugikan pihak lain. Dikhawatirkan pula anak-anak didik kita akan belajar untuk kurang memperhatikan arti
profesionalisme ketika bekerja kelak. Atau ketika demo sudah dijadikan pilihan
guru untuk menyampaikan aspirasinya maka ini dijadikan teladan pula oleh para
murid-muridnya, bahwa seakan-akan solusi setiap permasalahan adalah cukup
dengan demonstrasi. Apalagi selama ini anak-anak cukup sering disuguhi
pemberitaan unjuk rasa yang disampaikan melalui saluran demo. Padahal harapan
kita ketika dewasa anak-anak kita lebih menyukai dialog dan diskusi untuk
mencari penyelesaian setiap permasalahan.
Contoh lainnya adalah Bapak kepala
sekolah dan bapak guru sering melarang siswa untuk tidak merokok dan mereka sering menerangkan dengan detil bahaya merokok, bahkan seruan berbentuk baligo berukuran
besar pun di pasang, yang isinya
larangan merokok, tetapi disadari atau
tidak bapak-bapak guru sering merokok di
area sekolah dengan bebasnya. Mereka telah melupakan nasihat dan larangan yang telah
disampaikanya pada siswa,. Prilaku
seperti itu akan mematahkan seruan dan nasihat
untuk tidak merokok pada siswa. Bahkan kemungkinan besar siswa merokok
terinspirasi oleh seorang guru perokok. Seperti pepatah guru kencing berlari
siswa kencing menari-nari, ini kan lebih parah.
Contoh berikutnya anak didik putri
akan terinspirasi oleh ibu-ibu guru yang berpakaian seronok, semisal memakai
baju pesta ke sekolah, memakai perhiasan yang berlebihan, bahkan ber-make up
tidak pada tempatnya. Memang semua itu adalah hak azasi namun kita mesti
menyadari usia Kelas VI, SLTP dan SMA adalah usia pencarian jati diri dan
proses imitasi, meniru dan ikut-ikutan
apa yang dilihat, diraba dan dirasakan. Karena harapan terbesar
kita adalah semua anak didik beretika
dan berestetika.
Banyak hal yang perlu kita waspadai
dalam berprilaku terutama di area sekolah , memang guru bukanlah malaikat namun
kita sebagai
guru memilki peranan yang istimewa dibandingkan dengan petugas fungsional
lainnya, karena
guru adalah pendidik yang memproduksi para siswa yang mempunyai kepribadian baik, relegius, berwawasan luas hingga
mencapai nilai afektif, kognitif, dan psikomotorik karena seyogyanya Negara ini
akan berkembang dan maju ke depannya oleh para generasi penerus bangsa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Guru sebagaimana kita ketahui,
banyak yang menafsirkan sebagai seorang yang serba bisa dihadapan peserta
didiknya, sehingga akan merasa malu atau gengsi jika seorang guru kalah ilmu
dihadapan siswanya.
Sebenarnya guru sebagaimana
dilukiskan Earl V Pullias dan james young bukan hanya menjadi sumber
pentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing,
pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti, atau paling tidak sebagai
pemberi inspirasi bagi siswanya.
Dengan demikian , guru yang
mengambil peran sebagai inspirator, secara langsung dituntut untuk memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas, luwes dalam berkomunikasi, rendah hati,
selalu ingin belajar dan bekerja keras, fleksibilitas dalam bergaul, berani
bersikap, memiliki prinsip dalam kebenaran, dan yang paling utama tidak merasa
bosan menjadi seorang pendidik.
Coba bayangkan, seandainnya guru
memperlihatkan kebosanannya sebagai seorang pendidik di hadapan siswa siswanya,
maka apa yang terjadi? Siswa akan kehilangan semangat untuk belajar dari
gurunya dan hal itu
pun menginspirasi peserta didik namun dalam ruang lingkup tidak baik. Maka dari itu kita sebagai calon
seorang pendidik harus membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang sangat baik
untuk dijadikan inspirasi oleh para peserta didik, agar didalam proses
pembelajaran bisa efektif dan bisa peningkatan kualitas belajar siswa, agar
tujuan pendidikan nasional bisa tercapai.
3.2 Saran
Dalam era
globalisasi ini dunia pendidikan sangatlah berpengaruh terhadap berkembangnya
suatu Negara agar mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas yang bisa
bersaing dengan Negara lain. Namun didalam dunia pendidikan sangatlah penting
adanya seorang guru yang professional untuk bisa menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan selain itu
gurupun
berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti,
dan sebagai pemberi inspirasi bagi siswanya.
Maka dari
itu seorang pendidik harus memenuhi standar kompetensi guru dan tentunya guru yang bisa berperan sebagai guru
professional dengan telah memenuhi semua aspeknya dan salah satunya ialah peran
guru sebagai inspirator dalam memberikan inspirasi kepada para siswanya, disini
guru patut memberikan contoh yang baik untuk para peserta didik agar guru
menjadi panutan para peserta didiknya. Dalam ruang lingkup sekecil apapun
hingga sebesar apapun. Karena tujuan pendidikan bisa tercapai oleh peranan yang
cukup andil dari seorang guru.
DAFTAR PUSTAKA
Drs
Ary Gunawan, Sosiologi Pendidikan : suatu analisis sosiologi tentang berbagai
problem pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2000.
DR
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya,
Bandung.
Drs
Moh Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.
Soejipto dan Raflis Kosasih, Profesi Keguruan, Rineka Cipta, Bandung,
Soejipto dan Raflis Kosasih, Profesi Keguruan, Rineka Cipta, Bandung,
Roestiyah
N K, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar