Rabu, 29 Mei 2013

Profesi guru sebagai inspirator




MAKALAH PROFESI PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PERAN GURU SEBAGAI INSPIRATOR DALAM MEMBERIKAN INSPIRASI
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah profesi pendidikan dan tenaga kependidikan



KELOMPOK 8:
Damasistio Pramono  (2227111974)
      


Kelas: G / VI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2013
KATA PENGANTAR

Bissmillahirahmanirrahim
            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan ini sesuai waktu yang telah ditentukan.
            Karya tulis ini kami buat berdasarkan literatur mengenai Peran Guru Sebagai Inspirator Dalam Memberikan Inspirasi sebagai judul dari penulisan laporan ini. Adapun maksud dan tujuan kami dalam pembuatan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas Profesi pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Kami sangat menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan ini masih banyak kekurangan baik dalam penyusunan maupun kelengkapan materi. Hal ini di karenakan keterbatasan materi yang kami miliki, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran guna memperbaiki  Laporan kami, dan semoga laporan ini memberi manfaat bagi pembaca pada umumnya. Amin.

                                                                                                            Serang, April  2013
                                                                                                                                                                                                                                                        Penyusun








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………...  2
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….. 3
BAB I   :  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah…………………………………………….............   4
1.2  Rumusan Masalah……………………………………………………..........    4
1.3  Tujuan Masalah………………………………………………………..........    4
BAB II  : ISI DAN PEMBAHASAN
2.1  Pengertian
1.      Guru  .....................................................................................................   5
2.      Peran Guru Secara Pribadi ....................................................................   5
3.      Peran Guru dalam Upaya Peningkatan Kualitas Belajar Siswa……...     6
4.      Guru Profesional ..................................................................................   10
2.2  Makna Guru Inspiratif ..................................................................................   11
2.3  Peran Guru Sebagai Inspirator.....................................................................   13
BAB III :PENUTUP
3.1Kesimpulan……………………………………………………………………  19
           3.2 Saran………………………………………………………………………….   20
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………...   21









BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan peran guru sangatlah penting dimana Guru sebagaimana kita ketahui, banyak yang menafsirkan sebagai seorang yang serba bisa dihadapan peserta didiknya, sehingga akan merasa malu atau gengsi jika seorang guru kalah ilmu dihadapan siswanya.
Sebenarnya guru bukan hanya menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti,
dan yang paling utama yaitu pemberi inspirasi bagi siswanya. Dengan demikian guru yang mengambil peran sebagai inspirator, secara langsung dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, luwes dalam berkomunikasi, rendah hati, selalu ingin belajar dan bekerja keras, fleksibilitas dalam bergaul, berani bersikap, memiliki prinsip dalam kebenaran, dan paling utama tidak merasa bosan menjadi seorang pendidik.
Di dunia pendidikan guru merupakan panutan bagi para siswa-siswanya untuk menjadi pribadi yang baik, maka dari itu kita sebagai calon pendidik (guru) harus mengetahui cara-cara ataupun nilai-nilai agar kita terlatih untuk menjadi seorang inspirator untuk siswa-siswi kita dikemudian hari pada saat menjadi seorang pendidik.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Pengertian guru?
2.      Pengertian guru profesional?
3.      Pengertian peran guru sebagai inspirator ?


1.3  Tujuan Penulisan
1.      Memahami pengertian guru,peran.
2.      Memahami guru profesional.
3.      Memahami peran guru sebagai inspirator.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
1.Guru
GURU adalah front terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Operasional pendidikan pada tingkatan mikro atau lapis dasar (gras root) adalah ditingkat institusional atau satuan pendidikan dan instruksional. Namun ada kecenderungan guru tersisihkan dari peranannya sebagai pihak yang terdepan, termasuk kaitannya dengan EBTA, EBTANAS, UAN, UNAS, UAS-BN atau apapun namanya.Padahal pada tingkat ini pendidikan berlangsung di front yang paling depan dimana terjadi interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik dalam interasi pendidikan, serta berada pada posisi yang paling dekat dengan orang tua atau wali murid dan masyarakat.
Dalam posisi ini orang tua dan masyarakat dapat mengamati dari dekat bagaimana berlangsungnya pendidikan untuk anak-anak mereka. Guru sebagai pihak yang berada ditingkat instruksional berhadapan langsung dengan peserta didik dalam proses instruksional harus memperoleh otonomi pedagogis dan profesional untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai pendidik. Guru sebagai perancang pengajaran, manager pengajaran, pengarah pembelajaran, pembimbing peserta didik dan penilai hasil belajar, maka merekalah yng sesungguhnya mempunyai otonomi dalam memberikan informasi hasil belajar, tapi kenyataan hingga saat ini guru lebih banya diperlakukan sebagai komponen obyek dan bukan sebagai subyek insan pendidikan. Sudah seharusnya guru memperoleh preoritas sentral dalam pemberdayaan otonomi pedagogisnya dalam mewujudkan kinerja pendidikan. Mengingat besarnya peran guru pada tingkat institusional dan instruksional, maka guru harus dijadikan sumber informasi proses dan hasil pendidikan dari anak didik yang menjadi tanggung jawabnya. Guru harus diberdayakan dalam keikutsertaannya dalam evaluasi dan proses pembelajaran.
2.Peran Guru Secara Pribadi
Dilihat dari dirinya sendiri, seorang guru harus berperan sebagai berikut :
• Petugas social, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi didalamnya.
• Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
• Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan setelah keluarga, sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga, guru berperan sebagai orang tua bagi siswanya.
• Pencari teladan, yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk siswa. Guru menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku
• Pemberi keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa. Guru menjadi tempat berlindung bagi siswa untuk memperoleh rasa aman dan puas di dalamnya.

3. Peran Guru dalam Upaya Peningkatan Kualitas Belajar Siswa
Salah satu tugas utama guru adalah pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas, pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam proses pembelajaran sering ditemui adanya kecenderungan meminimalkan keterlibatan siswa. Dominasi guru dalam proses pembelajaran menyebabkan kecenderungan siswa lebih bersifat pasif sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru dari pada mencari dan menemukan sendiri pengetahuan, ketrampilan atau sikap yang mereka butuhkan.
Proses pembelajaran yang selama ini dilakukan khususnya pada sekolah yang berada di pedesaan atau daerah yang belum tersentuh teknologi pada dasarnya hanya menekankan pada target pencapaian kurikulum dari pada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu. Kondisi seperti ini tidak akan mampu menmbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan.Dengan diterapkannya Kurikulum 2006 (KTSP), guru tidak lagi hanya sebagai penceramah yang selalu mendokrtrinasi berbagai macam teori kepada siswa. Siswa tidak lagi diperlakukan sebagai objek namun secara utuh mereka merupakan subjek yang siap untuk menyerap berbagai pengalaman melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Guru dan siswa harus menciptakan kelas sebagai suatu keluarga kecil yang mampu memberikan gambaran tentang proses interaksi di dalamnya, dimana siswa lebih berpartisipasi aktif sehingga kegiatan siswa dalam belajar jauh lebih dominan dari pada kegiatan guru dalam mengajar.Penjelasan pasal 4 UU. No. 14 Tahun 2005 menjelaskan bahwa guru merupakan agen pembelajaran, yaitu guru berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Penjelasan pasal tersebut memberikan suatu pemahaman kepada kita bahwa, terdapat empat peran penting yang harus dilakukan guru dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas belajar siswa, yaitu :
- Guru Sebagai Fasilitator
Jika prestasi belajar adalah hasil, maka belajar merupakan prosesnya. Dalam proses itu, siswa akan menemui berbagai rintangan. Di sinilah arti penting fasilitator. Fasilitator adalah orang yang menyediakan fasilitas. Fasilitator dalam konsep belajar mandiri, guru dan sekolah tidak lagi menjadi titik pusat kegiatan, tetapi lebih bersifat sebagai pendukung kebutuhan siswa (1997:275).
Wina Senjaya, mengatakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Sebagai gambaran dalam ilmu sosial guru dapat memberikan tugas siswa dengan menganalisa fenomena kehidupan sosial yang terjadi pada lingkungannya maupun lingkungan bernegara melalui majalah, koran, televise, internet, dan fenomena kehidupan sosial sehari-hari sehingga siswa akan lebih banyak meluangkan waktunya untuk belajar dengan pengalaman hidup yang ia geluti
Prof. Dr. Made Pidarta (1997:271) menjelaskan bahwa perilaku-perilaku yang perlu diperhatikan para pendidik sebagai fasilitator adalah sebagai berikut: (1) Pendidik bertindak sebagai mitra; (2) Melaksanakan disiplin yang permisif, ialah memberi kebebasan bertindak asal semua peserta didik aktif belajar; (3) Memberi kebebasan kepada semua peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi mereka masing-masing; (4) Mengembangkan cita-cita riil para peserta didik atas dasar pemahaman mereka tentang diri sendiri; (5) Melayani pengembangan bakat setiap peserta didik; (6) Melakukan dialog atau bertukar pikiran secara kritis dengan peserta didik; (7) Memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk berkreasi; (8) Mempergunakan metode penemuan; (10) Mempergunakan metode pembuktian.
- Guru Sebagai Motivator atau Pemacu
MC. Donald dalam Nashar menjelaskan, bahwa “motivasi adalah suatu perbuatan energy dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.” Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai seluruh daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan, memberikan, dan menjamin kelangsungan arah kegiatan belajar. Siswa yang tidak mempunyai motivasi tidak mungkin akan melakukan aktifitas belajar.
Motivasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu : (1) motivasi intrinsik, adalah sebuah motivasi yang lahir dari diri pribadi seseorang, (2) motivasi ekstrinsik, adalah motivasi yang berasal dari luar diri seseorang. Sebagai motivator guru harus dapat membangkitkan motivasi siswa khususnya siswa yang belum memiliki motivasi diri sehingga secara perlahan akan lahir suatu kesadaran dalam dirinya untuk mengantarkannya kepada pintu kesuksesan.
Banyak hal yang dapat dilakukan guru agar siswa selalu termotivasi untuk belajar, antara lain :
1) Menciptakan suasana kelas yang kondusif, situasi belajar yang menyenangkan, dan tidak mudah untuk memarahi siswa.
2) Bersikap simpati kepada siswa sehingga siswa akan merasa bahwa guru adalah pelindung sekaligus orang tua selama berada di sekolah.
3) Menciptakan persaingan yang sehat, memberikan pujian dan sanksi edukatif kepada siswa.
4) Menjadikan lingkungan dan alam sebagai media belajar dengan menunjukkan contoh-contoh konkrit yang berada pada lingkungan hidupnya.
5) Menjanjikan hadiah bagi siswa berprestasi.
Motivasi pun dapat dilakukan guru melalui kerjasama atau koordinasi dengan orang tua. Finn dalam Departemen Agama mengidentifikasi tiga bentuk peran orang tua di rumah yang berhubungan erat dengan peningkatan prestasi anak di sekolah, yaitu : (1) secara efektif mengatur dan memonitor waktu anak; (2) membimbing mereka dalam menyelesaikan pekerjaan rumah; dan (3) mendiskusikan masalah-masalah sekolah dengan anak.
- Guru Sebagai Perekayasa Pembelajaran
Guru profesional harus memiliki daya kreatifitas yang tinggi dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Kondisi pembeajaran yang tidak kondusif dan menegangkan akan melahirkan suatu tekanan psikis dalam diri siswa, yang berdampak pada hilangnyaKonsentrasibelajarsiswa.
Suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan tersebut dapat diciptakan guru dengan kreatifitasnya dalam
 merekayasa materi pembelajaran ke dalam berbagai bentuk media, seperti media audio, media audio-visual, media cetak, media objek fisik, komputer, dan internet. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.
Seiring dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK (komputer/internet) merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam
 upaya peningkatan kualitas belajar siswa dengan tentunya untuk mencerdaskan siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai.
- Guru Sebagai Inspirator
Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan inspirasi atau petunjuk yang baik bagi kemajuan siswa. Guru harus memberikan petunjuk kepada siswa bagaimana cara belajar yang baik, media apa yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga hal tersebut akan melahirkan sebuah inspirasi dan dalam diri siswa tersebut untuk terus belajar guna meraih prestasi. Maka dari itu kita sebagai calon pendidik harus berkepribadian baik, religious, bermoral dan bermartabat agar peserta didik dapat menginspirasi kita sebagai pendidiknya.
Namun dalam dunia pendidikan peran guru sangatlah penting selain nilai – nilai diatas guru pun harus mempunyai menjadi guru kreatif, menjadi seorang guru yang kreatif saat ini tampaknya sudah menjadi suatu keharusan. Sebab, guru yang kreatif akan mampu menciptakan proses pembelajaran yang memudahkan peserta didik menerima materi yang disampaikan dengan proses yang menyenangkan. Selain itu, kreatifitas adalah salah satu modal untuk menjadi guru profesional
Salah satu ciri guru kreatif adalah selalu terbuka dengan gagasan atau kemungkinan baru. Dia aktif mencari dan mengembangkan gagasan atau cara yang berbeda untuk peningkatan kualitas pembelajaran siswa.(2)Kembangkan pertanyaan. Guru kreatif akan selalu bertanya dan mencari terus menerus tentang yang dia lihat dan lakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, dia akan terus berkembang dan tidak menganggap segala sesuatu sudah semestinya dilakukan melainkan akan menghasilkan cara yang lebih baik untuk peningkatan kualitas belajar siswa. (3) Kembangkan gagasan sebanyak-banyaknya. Guru kreatif akan selalu mencari banyak solusi dan alternatif. Dia akan mengembangkan kreativitas dan imajinasi yang dia punya untuk meningkatnya kualitas pembelajaran. (4) Ciptakan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Seorang guru yang kreatif akan selalu berpatokan pada ‘Learning is fun’. Dia akan selalu menciptakan model dan metode pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak didiknya merasa tertarik tentang apa yang dia sampaikan dan tidak merasa jenuh dalam kegiatan belajar
3.Guru Profesional
Guru sebagaimana kita ketahui, banyak yang menafsirkan sebagai seorang yang serba bisa dihadapan peserta didiknya, sehingga akan merasa malu atau gengsi jika seorang guru kalah ilmu dihadapan siswanya.Sebenarnya guru sebagaimana dilukiskan Earl V Pullias dan james young bukan hanya menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti, atau paling tidak sebagai pemberi inspirasi bagi siswanya.Dengan demikian , guru yang mengambil peran sebagai inspirator, secara langsung dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, luwes dalam berkomunikasi, rendah hati, selalu ingin belajar dan bekerja keras, fleksibilitas dalam bergaul, berani bersikap, memiliki prinsip dalam kebenaran, dan yang paling utama tidak merasa bosan menjadi seorang pendidik.Coba bayangkan, seandainnya guru memperlihatkan kebosanannya sebagai seorang pendidik di hadapan siswa siswanya, maka apa yang terjadi? Siswa akan kehilangan semangat untuk belajar dari gurunya.Professi  :hosnan.m 1989 adalah  keahlian yang dimilki seseorang yang berkaitan dgn pekerjaanya.Profesional : pengakuan pada diri seseorang yg menyandang suatu profesi dlm mlksnk unjuk kerjanya .Pendidik: guru profesional : yang memiliki    tugas : utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah  tenaga kependidikan : petugas yang melayanai  dan membina pendidikan sesuai dgn jenjang dan jenis pendidikan  mis;kasek,pengawas.pustakawan,laboran dsb, Guru profesional harus memiliki daya kreatifitas yang tinggi dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Kondisi pembeajaran yang tidak kondusif dan menegangkan akan melahirkan suatu tekanan psikis dalam diri siswa, yang berdampak pada hilangnya konsentrasi belajar siswa.Suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan tersebut dapat diciptakan guru dengan kreatifitasnya dalam merekayasa materi pembelajaran ke dalam berbagai bentuk media, seperti media audio, media audio-visual, media cetak, media objek fisik, komputer, dan internet. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.Seiring dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK (komputer/internet) merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan guru dalam upaya peningkatan kualitas belajar siswa.Mengutip pendapat Kemp dan Dayton, La Ode Safihu mengatakan, bahwa manfaat pembelajaran dengan menggunakan media antara lain : (1) mampu memberikan kesan yang mendalam dan tahan lama pada diri siswa, (2) membuat pelajaran yang abstrak menjadi konkrit, dan (3) Meningkatkan kualitas hasil belajar.Ibrahim (1982:12) mengemukakan, bahwa fungsi atau peranan media dalam proses belajar mengajar antara lain : (1) dapat menghindari terjadinya verbalisme, (2) membangkitkan minat atau motivasi, (3) menarik perhatian, (4) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan ukuran, (5) mengaktifkan siswa dalam belajar, dan (6) Mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar.
2.2  Makna Guru Inspiratif
Selama ini ada banyak memang guru yang sudah mampu menjadi inspirator bagi murid-muridnya. Namun peran tersebut masih dianggap bukan hal yang utama. Cukup mendidik dan mengajar, memberi ilmu, guru merasa sudah memenuhi sebagian besar tugasnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  “inspirasi” adalah kata benda yang berarti “ilham”. Sedangkan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti yakni  petunjuk Tuhan yang timbul di hati, berarti pula pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati atau  bisikan hati dan bermakna pula  sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb).
Dalam hal ini berarti seorang guru harus mampu membangkitkan pikiran atau angan-angan muridnya untuk melakukan sesuatu atau menjadi sesuatu yang positif (cita-cita atau keinginan). Guru juga harus bisa menggerakan hati anak didiknya untuk menciptakan sesuatu, membuat sesuatu, berusaha, berjuang dan mengikuti sesuatu yang diyakininya benar dan baik.
Ngainun Naim, dalam bukunya “Menjadi Guru Inspiratif “ menjelaskan bahwa guru adalah orang yang mengantarkan seseorang untuk mencapai kemulian. Guru begitu memiliki peranan penting dalam proses belajar siswa. Guru juga harus bisa memberikan pencerahan bagi siswanya dan mampu melahirkan siswa yang tangguh, siap menghadapi aneka tantangan sekaligus memberi perubahan yang hebat bagi kehidupannya “Pencerahan itu pasti lahir dari guru yang inspiratif. Guru inspiratif adalah guru yang memiliki orientasi jauh lebih luas. Guru inspiratif memilih melakukan tindakan yang sangat strategis, yaitu bagaimana ia mampu memberikan perspektif yang mencerahkan. Guru inspiratif menawarkan perspektif yang memberdayakan, menghasilkan energi yang kreatif, “ ujar Ngainun.
Lanjut Ngainun,  guru inspiratif tidak hanya melahirkan daya tarik dan spirit perubahan terhadap diri siswanya dari aspek diri pribadinya semata, tetapi ia juga harus mampu mendesain iklim dan suasana yang juga inspiratif.
Penciptaan pola yang inspiratif akan semakin memperkukuh karakter dan sifat inspiratif yang ada pada diri guru. Perpaduan keduanya yaitu karakter diri guru dan suasana pembelajaran akan menjadikan dimensi inspiratif, semakin menemukan momentum untuk mengkristalkan dan membangun energi perubahan positif dalam diri setiap siswa.
Tambah Ngainun, dalam usaha untuk menciptakan iklim pembelajaran yang inspiratif, aspek paling utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana guru mampu untuk menarik dan mendorong minat siswa untuk tenang dan menyukai terhadap pelajaran.
“Penciptaan suasana pembelajaran yang inspiratif sangat penting artinya untuk semakin mengukuhkan dan mendukung kekuatan inspiratif yang bersumber dari diri pribadi guru. Dua aspek ini: pribadi guru dan suasana pembelajaran, pada gilirannya akan mampu mengakumulasikan potensi dalam diri para siswanya untuk semakin meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya. “ jelasnya.
Katanya, modal inilah yang pada gilirannya dapat dilejitkan untuk melakukan perubahan menujuh arah pencapaian cita-cita hidup, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
“Dalam jangka pendek, para siswa mampu menjadi siswa dengan prestasi belajar yang memuaskan. Sedangkan cita-cita jangka panjangnya adalah bagaimana menjadi pribadi yang sukses dalam makna yang luas; sukses hidup, keluarga, profesi, social, dan kemasyarakatan.” ucap Ngainun.

2.3 Peran Guru Sebagai Inspirator
Guru sebagai pemberi inspirasi belajar harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi sesuai dengan apa yang dipelajari. Membangkitkan ide, pemikiran, gagasan, optimesme dan keharmonian dalam belajar dibutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung.
Rhenald Kasali pada harian Kompas terbitan tanggal 29 Agustus 2007 dengan judul “GURU KURIKULUM DAN GURU INSPIRATIF”. Kutipanya yaitu : “Ada dua jenis guru yang kita kenal yaitu guru kurikulum dan guru Inspiratif. Guru kurikulum sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransper semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking) dan jumlahnya sekitar 99%. Sedangkan guru inspiratif jumlanya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box) mengubahnya di dalam lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.”
Melihat kondisi pendidikan/system sekolah umumnya di Indonesia, guru-guru memang terbelenggu oleh ketentuan administrative yang harus dipatuhi seperti target pencapaian kurikulum, ketuntasan belajar, silabus, RPP dan sebagainya. Sesuai dengan ketentuan yang ada bahwa wujud pelaksanaan pendidikan di sekolah tertuang dalam bentuk kegiatan intra kurikuler dan ekstrakurikuler. Dalam kegiatan intrakurikuler sangat jarang guru dalam interaksinya dengan murid-muridnya mampu mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki mereka. Padahal tujuan pendidikan yaitu pengembangan secara menyeluruh dari seluruh potensi anak didik melalui kreatifitas dan berpikir kreatif. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan memiliki arti sebagai pengembangan potensi manusia.
Selama ini guru lebih menekankan pada pendekatan intelektual/intelgensia atau hanya mengejar nilai. Sedangkan ketrampilan hidup dan bersosialisasi tidak diajarkan. Seorang anak dilihat berdasarkan nilai ulangan yang didapat bukan kemampuan diri secara keseluruhan. Kondisi ini dapat mendorong anak untuk mencontek atau melakukan usaha-usaha yang tidak baik karena tuntutan angka sehingga nilai-nilai pendidikan terabaikan.
 Ada 3 (tiga) pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran dikelas agar menjadi sumber inspirasi atau pemberi inspirasi :
1. Melalui Pendekatan Kecerdasan Emosional
 Otak manusia terdiri ari dua lapisan yaitu lapisan luar (neo cortrex) dan lapisan tengah (limbic system). Di wilayah lapisan luar otal, manusia mampu berhitung, mengoperasikan computer, mempelajari bahasa Inggris, dan perhitungan yang rumit lainnya. Melalui penggunaan otak neo-cortex inilah lahir intelegence quotient/IQ atau kemampuan intelektual (Ary Ginanjar A: Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power). Kecerdasa ini berkaitan dengan kesadaran terhadap ruang, kesadaran pada sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. Sedangkan pada lapisan tengah otak (limbic system) terletak pengendali emosi dan perasan manusia yang memungkinkan manusia luwes dalam bergaul, penolong sesama, setia kawan dan bertanggung jawab. Perilaku inilah yang disebut kecerdasan emosional/EQ (emotional quotient) yang dapat dimaknai serangkaian kecakapan untuk melapangkan jalan di dunia yang penuh liku-liku permasalahan social. Pada ranah inilah saya pikir, guru bisa membangkitkan potensi anak didiknya untuk menempuh kesuksesan dengan mengembangkan rasa simpati dan empati pada sesama, sifat kerja keras dan bertanggung jawab. Menurut penelitian yang dilakukan oleh pakar psikolog yaitu Steven J. Stein dan Howard E. Book, bahwa IQ hanya berperan dalam kehidupan manusia dengan besaran maksimum 20%, bahkan hanya 6%. Jadi pendekatan emosional yang dilakukan guru terhadap siswanya ketika interaksi di kelas, bisa mendorong siswa untuk sukses dengan tidak hanya mengandalkan dari sisi IQ-nya saja. Pendekatan emosional yang bisa dilakukan misalnya dengan selalu menebarkan energi positif pada anak didik, toleransi terhadap ketidaksempurnaan, dan mencintai sepenuh hati anak didik dengan perbedaan yang dimiliki mereka.
2. Melalui Pendekatan Kecerdasan Spiritual
Pada ranah ini, pendekatan yang harus dilakukan oleh guru adalah meningkatkan potensi siswa dengan membangkitkan spiritual quotient dengan cara menanamkan/mengajarkan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam agama. Pondasinya sesuatu yang baik dan indah. Dalam pengertian umum bisa bermakna positif termasuk kejujuran, kebajikan, keindahan dan keramahan. Dalam belajar atau bekerja adalah bagaimana seseorang dapat belajar/bekerja dengan jujur dan amanah dan mengerjakan sesuatunya secara benar-sesuai peraturan yang ditetapkan. Guru bisa menanamkan kepada setiap anak didik/siswa bahwa setiap yang dilakukan oleh kita manusia adalah bernilai ibadah dan sebagai manusia harus bisa memberi manfaat bagi manusia yang lain.

3. Melalui Pendekatan Kecerdasan Sosial
Menurut Edward L. Thondrike kecerdasan social (socialintelligence) adalah kemampuan untuk saling mengerti sesama manusia dan bijaksana dalam hubungan sesama manusia. Dia menegaskan kecerdasan sosial berbeda dengan kemampuan akademik. Saat ini banyak tudingan terhadap dunia pendidikan dimana produk pendidikan kita adalah manusia-manusia yang biasa menyikut orang untuk mempertahankan kepentingannya karena kurikulum ternyata mendorong orang semakin cerdas sekaligus menyuburkan sikap-sikap individualistic alias mementingkan diri sendiri. Gaya hidup ini menghapus bersih sikap kerja sama, tenggang rasa, simpati, empati dan budi pekerti yang luhur. Bayangkan bila penguasa masa depan adalah produk dari dunia pendidikan seperti ini. William Chang, seorang pemerhati social menyebut fenomena ini menghasilkan manusia yang bereaksi lamban. Kelambanan bereaksi ditafsirkan akibat rendahnya kecerdasan sosial. Sisi inilah yang barangkali bisa digali dan dikembangkan oleh guru pada anak didiknya. Harus disadari bahwa latar belakang sosial anak didik berbeda-beda baik suku, bahasa, agama, bahkan tingkat ekonominya. Disisi lain manusia sebagai makhluk social tidak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu penting kiranya mengembangkan sikap kerja sama, tenggang rasa, simpati, empati dan budi pekerti yang luhur pada setiap anak didik. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mempraktekan 5 S (senyum, sapa, salam, sabar dan syukur). Pendekatan di atas sebagai motivasi bagi kita untuk bisa berbuat lebih bayak dan lebih baik.

Untuk itulah pemerintah membuat standar kompetensi guru yang meliputi :
• Personal / keperibadian
Kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia yang menjadi teladan bagi peserta didik.

• Pofesional
Kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan guru dapat membimbing peserta didik untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.
• Pedagogik
Kemampuan mengelola peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
• Sosial
Kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Jadi Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan inspirasi atau petunjuk yang baik bagi kemajuan siswa. Guru harus memberikan petunjuk kepada siswa bagaimana cara belajar yang baik, media apa yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga hal tersebut akan melahirkan sebuah inspirasi dan dalam diri siswa tersebut untuk terus belajar guna meraih prestasi.
Sebagai contoh guru telah menorehkan tinta dalam sejarah Indonesia untuk mengubah kehidupannya dan menuntut keadilan,  guru melakukan demo besar-besaran. Kegiatan demo ini akan menginsfirasikan  pada siswa hal yang positif dan negetif. Inspirasi positif  yang muncul dalam benak siswa seperti:
Inspirasi pertama adalah anak-anak mungkin akan terinspirasi betapa hebatnya perjuangan guru mereka dalam memperjuangkan nasibnya. Para murid ini akan terilhami bahwa tidak ada namanya jalan buntu dalam memperjuangkan sesuatu. Selalu ada jalan menuju Roma.
Inspirasi  kedua bisa datang dari tidak kompaknya para guru di beberapa Kecamatan dalam menyikapi ajakan demo dari PGRI. Dari sini sang murid bisa melihat bahwa berbeda pendapat adalah sah-sah saja selama memiliki landasan pemikiran yang rasional. Lebih baik memilih bersikap berbeda daripada menjadi bunglon yang hanya mau memetik keuntungan saja dari perjuangan yang susah payah dilakukan rekan-rekannya yang lain.
Inspirasi ketiga, murid-murid mereka akan belajar untuk tidak takut untuk menyuarakan pendapat. Sebelum demo dilakukan mungkin para guru merasakan tekanan dari berbagai pihak untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan pihak lain. Meskipun tidak semua siswa mereka peka terhadap persoalan yang tengah dihadapi guru mereka sebelumnya, bagi sebagian siswa terutama yang sudah duduk di pendidikan menengah mungkin akan bisa lebih merasakannya. Karenanya butuh energi yang cukup besar dari para guru ketika memutuskan untuk menyuarakan pendapatnya.
Inspirasi Keempat, bisa juga muncul inspirasi bahwa suatu hal yang diperjuangkan akan lebih mudah tercapai apabila dilakukan bersama-sama. Bukankah para guru sering mengajarkan bahwa satu lidi tidak akan mampu membersihkan kotoran daripada seratus lidi yang diikat menjadi satu? Demo guru memberikan contoh konkret terhadap apa yang telah mereka ajarkan.
Inspirasi Kelima, anak-anak pun akan belajar untuk berpikir kritis sebagaimana yang dicontohkan guru-guru mereka dalam demo itu. Maka jangan kaget kalau suatu saat murid mereka bisa bersikap kritis kepada mereka.
 Sebagai pendidik, guru harus tetap waspada terhadap prilaku ketika berdemo, karena kita tetap ditonton  dan disaksikan anak didik . jika kita berprilaku anarki dalam demo,  maka secara langsung guru telah memberikan inspirasi negetif terhadap siswa .
Seperti yang diberitakan bahwa demonstrasi yang dilakukan para guru dilakukan pada jam proses belajar mengajar seharusnya berlangsung. Karena itu dikhawatirkan anak-anak akan terinspirasi bahwa ketika hak tidak terpenuhi maka boleh-boleh saja mengabaikan kewajiban, walaupun apa yang dilakukan itu merugikan pihak lain. Dikhawatirkan  pula anak-anak didik kita   akan belajar untuk kurang memperhatikan arti profesionalisme ketika bekerja kelak. Atau ketika demo sudah dijadikan pilihan guru untuk menyampaikan aspirasinya maka ini dijadikan teladan pula oleh para murid-muridnya, bahwa seakan-akan solusi setiap permasalahan adalah cukup dengan demonstrasi. Apalagi selama ini anak-anak cukup sering disuguhi pemberitaan unjuk rasa yang disampaikan melalui saluran demo. Padahal harapan kita ketika dewasa anak-anak kita lebih menyukai dialog dan diskusi untuk mencari penyelesaian setiap permasalahan.
Contoh lainnya adalah Bapak kepala sekolah dan bapak guru sering melarang siswa untuk tidak merokok  dan mereka sering  menerangkan dengan detil bahaya merokok,  bahkan seruan berbentuk baligo berukuran besar pun di pasang,  yang isinya larangan merokok,  tetapi disadari atau tidak  bapak-bapak guru sering merokok di area sekolah dengan bebasnya. Mereka telah melupakan nasihat dan larangan yang telah disampaikanya pada  siswa,. Prilaku seperti itu akan mematahkan seruan dan nasihat   untuk tidak merokok pada siswa. Bahkan kemungkinan besar siswa merokok terinspirasi oleh seorang guru perokok. Seperti pepatah guru kencing berlari siswa kencing menari-nari, ini kan lebih parah.
Contoh berikutnya anak didik putri akan terinspirasi oleh ibu-ibu guru yang berpakaian seronok, semisal memakai baju pesta ke sekolah, memakai perhiasan yang berlebihan, bahkan ber-make up tidak pada tempatnya. Memang semua itu adalah hak azasi namun kita mesti menyadari usia Kelas VI, SLTP dan SMA adalah usia pencarian jati diri dan proses imitasi, meniru dan ikut-ikutan  apa yang dilihat, diraba dan dirasakan. Karena harapan terbesar kita  adalah semua anak didik beretika dan berestetika.
Banyak hal yang perlu kita waspadai dalam berprilaku terutama di area sekolah , memang guru bukanlah malaikat namun kita sebagai guru memilki peranan yang istimewa dibandingkan dengan petugas fungsional lainnya, karena guru adalah pendidik yang memproduksi para siswa yang  mempunyai kepribadian  baik, relegius, berwawasan luas hingga mencapai nilai afektif, kognitif, dan psikomotorik karena seyogyanya Negara ini akan berkembang dan maju ke depannya oleh para generasi penerus bangsa.













BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan

Guru sebagaimana kita ketahui, banyak yang menafsirkan sebagai seorang yang serba bisa dihadapan peserta didiknya, sehingga akan merasa malu atau gengsi jika seorang guru kalah ilmu dihadapan siswanya.
Sebenarnya guru sebagaimana dilukiskan Earl V Pullias dan james young bukan hanya menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan akan tetapi juga berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti, atau paling tidak sebagai pemberi inspirasi bagi siswanya.
Dengan demikian , guru yang mengambil peran sebagai inspirator, secara langsung dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, luwes dalam berkomunikasi, rendah hati, selalu ingin belajar dan bekerja keras, fleksibilitas dalam bergaul, berani bersikap, memiliki prinsip dalam kebenaran, dan yang paling utama tidak merasa bosan menjadi seorang  pendidik.
Coba bayangkan, seandainnya guru memperlihatkan kebosanannya sebagai seorang pendidik di hadapan siswa siswanya, maka apa yang terjadi? Siswa akan kehilangan semangat untuk belajar dari gurunya dan hal itu pun menginspirasi peserta didik namun dalam ruang lingkup tidak baik. Maka dari itu kita sebagai calon seorang pendidik harus membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang sangat baik untuk dijadikan inspirasi oleh para peserta didik, agar didalam proses pembelajaran bisa efektif dan bisa peningkatan kualitas belajar siswa, agar tujuan pendidikan nasional bisa tercapai.











3.2  Saran 
           
Dalam era globalisasi ini dunia pendidikan sangatlah berpengaruh terhadap berkembangnya suatu Negara agar mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas yang bisa bersaing dengan Negara lain. Namun didalam dunia pendidikan sangatlah penting adanya seorang guru yang professional untuk bisa menjadi sumber pentransfer ilmu pengetahuan selain itu gurupun berperan sebagai pembimbing, pemberi teladan, moderator, modernisator, peneliti, dan  sebagai pemberi inspirasi bagi siswanya.
Maka dari itu seorang pendidik harus memenuhi standar kompetensi guru dan tentunya guru yang bisa berperan sebagai guru professional dengan telah memenuhi semua aspeknya dan salah satunya ialah peran guru sebagai inspirator dalam memberikan inspirasi kepada para siswanya, disini guru patut memberikan contoh yang baik untuk para peserta didik agar guru menjadi panutan para peserta didiknya. Dalam ruang lingkup sekecil apapun hingga sebesar apapun. Karena tujuan pendidikan bisa tercapai oleh peranan yang cukup andil dari seorang guru.



















DAFTAR PUSTAKA
Drs Ary Gunawan, Sosiologi Pendidikan : suatu analisis sosiologi tentang berbagai problem pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2000.
DR Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung.
Drs Moh Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.
Soejipto dan Raflis Kosasih, Profesi Keguruan, Rineka Cipta, Bandung,
Roestiyah N K, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar